DRINI- Seorang ANAK LAUT
Waktu itu di Drini 1 Desember 2012 di awal bulan itu? aku memperhatikan seorang anak kecil. Cara pandangnya begitu berbeda dan membuat ku sangat kagum, anehnya semua itu berasal dari awal yang sangat sederhana. Berbasah-basahan dan mengamati segala hewan di dalamnya membuat jenuh dan bosan, tapi perhatian ku tertuju ke seorang anak kecil yang asik memancing? mendekatinya bersama seorang temanku membuat ku semakin penasaran akan siapa dia?
Menanyakan apa yang di lakukannya mengawali perkenalan kami yang cukup singkat tapi bermakna. Ku ikuti dia sambil membawakan pancing dan umpan serta hasil pancinganya seperti layaknya seorang asiten dosen yang sedang bekerja, sekedar agar bisa tetap ngobrol dan tau seluk beluknya. Lama mengamati aku tersadar dia bukan anak biasa? dia anak laut, begitu tenang di luarnya namun keras dan rumit di dalamnya. Dia nampak anak yang polos tapi dia tahu betul bagaimana memperjuangkan arti keluarga. Anak ini bernama Beny dia seorang anak pesisir yang tiap hari sekolah dan jika libur dia memancing. Memancing ikan-ikan kecil hanya untuk menyediakan sedikit lauknya di rumah. Sibuk menanti ayahnya yang pulang melaut sampai dia siap tuk menggantikan pekerjaan ayahnya itu.
Mataku berbinar melihat caranya mengajak ikan berbicara "ayo makan sayang? ih ki yo pangan yok. ki gede, enak ki". Tidak semua anak memiliki fantasi seperti ini. Waktu beny melihat udang dia langsung memanjat karang. Bingung adalah pemiiran ku saat itu, apa hubunganya menangkap udang dengan memanjat tebing? namun yang terjadi adalah hal lain ia memanjat tebing untuk mendapatkan batok kelapa yang sudah kering, batok inilah yang di gunakan untuk menangkap udang. Cara berfikir yang rumit untuk dapat mengerti namun sayangnya udang yang tertanggkap itu lepas dan kembali ke laut bebas, waktu itu dia bercarita "kalau aku punya jaring ikan tidak hanya ikan kecil bahkan udang pun bisa ku dapat lebih banyak lagi". Hanya impian kecil memiliki jaring tapi adakah yang bisa memberikanya?
Semua orang terlalu sibuk dengan urusanya, mengasiani nasip sendiri? apakah orang macam itu patut hidup? setelah menjawab realitantnya saya nyatakan dengan tegas "TIDAK". waktu itu saya dan teman saya punya inisiatif untuk mengajaknya makan di pesisir pantai. Dua nasi goreng itu yang kami pesan waktu itu, dengan harapan bisa melihatnya makan sangat lahap, tapi seandainya hal itu terjadi aku tidak dapan menyaksikanya kerena harus menyelesaikan penelitian ku. Teman ku masih menemaninya dan mendanginya, setelah semua selesai? teman ku berbicara pada ku.
"Tau apa yang dia katakan?"
"Tidak"
"Tadi waktu aku kasih nasi goreng dia bilang...."
"Apa? cepat?"
"bungkus saja untuk dimakan bersama dengan mamak"
Hatiku hancur berkeping-keping indahnya dapat berbagi dengan orang tua? tapi q sadar Tuhan ciptakan jalanya sendiri. Tuhan ambil Ayah ku dan pisahkan ku dari ibuku tapi Dia ijinkan ku belajar rasanya memiliki keluarga bersama anak itu. Semenjak itu aku menamainya ANAK LAUT.
Waktu itu di Drini 1 Desember 2012 di awal bulan itu? aku memperhatikan seorang anak kecil. Cara pandangnya begitu berbeda dan membuat ku sangat kagum, anehnya semua itu berasal dari awal yang sangat sederhana. Berbasah-basahan dan mengamati segala hewan di dalamnya membuat jenuh dan bosan, tapi perhatian ku tertuju ke seorang anak kecil yang asik memancing? mendekatinya bersama seorang temanku membuat ku semakin penasaran akan siapa dia?
Menanyakan apa yang di lakukannya mengawali perkenalan kami yang cukup singkat tapi bermakna. Ku ikuti dia sambil membawakan pancing dan umpan serta hasil pancinganya seperti layaknya seorang asiten dosen yang sedang bekerja, sekedar agar bisa tetap ngobrol dan tau seluk beluknya. Lama mengamati aku tersadar dia bukan anak biasa? dia anak laut, begitu tenang di luarnya namun keras dan rumit di dalamnya. Dia nampak anak yang polos tapi dia tahu betul bagaimana memperjuangkan arti keluarga. Anak ini bernama Beny dia seorang anak pesisir yang tiap hari sekolah dan jika libur dia memancing. Memancing ikan-ikan kecil hanya untuk menyediakan sedikit lauknya di rumah. Sibuk menanti ayahnya yang pulang melaut sampai dia siap tuk menggantikan pekerjaan ayahnya itu.
Mataku berbinar melihat caranya mengajak ikan berbicara "ayo makan sayang? ih ki yo pangan yok. ki gede, enak ki". Tidak semua anak memiliki fantasi seperti ini. Waktu beny melihat udang dia langsung memanjat karang. Bingung adalah pemiiran ku saat itu, apa hubunganya menangkap udang dengan memanjat tebing? namun yang terjadi adalah hal lain ia memanjat tebing untuk mendapatkan batok kelapa yang sudah kering, batok inilah yang di gunakan untuk menangkap udang. Cara berfikir yang rumit untuk dapat mengerti namun sayangnya udang yang tertanggkap itu lepas dan kembali ke laut bebas, waktu itu dia bercarita "kalau aku punya jaring ikan tidak hanya ikan kecil bahkan udang pun bisa ku dapat lebih banyak lagi". Hanya impian kecil memiliki jaring tapi adakah yang bisa memberikanya?
Semua orang terlalu sibuk dengan urusanya, mengasiani nasip sendiri? apakah orang macam itu patut hidup? setelah menjawab realitantnya saya nyatakan dengan tegas "TIDAK". waktu itu saya dan teman saya punya inisiatif untuk mengajaknya makan di pesisir pantai. Dua nasi goreng itu yang kami pesan waktu itu, dengan harapan bisa melihatnya makan sangat lahap, tapi seandainya hal itu terjadi aku tidak dapan menyaksikanya kerena harus menyelesaikan penelitian ku. Teman ku masih menemaninya dan mendanginya, setelah semua selesai? teman ku berbicara pada ku.
"Tau apa yang dia katakan?"
"Tidak"
"Tadi waktu aku kasih nasi goreng dia bilang...."
"Apa? cepat?"
"bungkus saja untuk dimakan bersama dengan mamak"
Hatiku hancur berkeping-keping indahnya dapat berbagi dengan orang tua? tapi q sadar Tuhan ciptakan jalanya sendiri. Tuhan ambil Ayah ku dan pisahkan ku dari ibuku tapi Dia ijinkan ku belajar rasanya memiliki keluarga bersama anak itu. Semenjak itu aku menamainya ANAK LAUT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar